Sabtu, 05 Juni 2010

Pemikiran Politik Barat : Pandangan Karl Marx dan Max Weber mengenai Kapitalisme


Berbicara mengenai Kapitalisme, sekarang sudah semakin merambah ke segala hal, dimana terdapat pencarian keuntungan dan kesejahteraan yang terdapat pada setiap diri manusia, karena pada hakikatnya manusia menginginkan kebahagiaan dan kesejahteraan. kebahagiaan dan kesejahteraan tersebut akan diperoleh apabila seseorang tersebut memiliki suatu barang untuk memenuhi semua kebutuhannya, maka seseorang yang telah merasakan kebehagiaan atau kesejahteraan secara kodrati manusia akan mempertahankan bahagiaan tersebut. Hal yang bisa dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan adalah bagaimana agar semua hal yang dimiliki akan terus bertambah dan tak pernah habis.
Setiap orang tidak bisa lari dari kenyataan bahwa segala sesuatu yang sedang dan akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan adalah suatu hasil dari kapitalisme, maka kepitalisme menarik untuk dikaji dan ditinjau dari pendapat ahli yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan social kemasyarakatan yaitu pandangan Karl Mark dan Max Weber mengenai kapitalisme, mengingat kedua tokoh itu sangat respon terhadap masyarakat yang menjadi pusat kajiannya.
Max Weber[1] menyatakan bahwa semanngat Kapitalisme adalah perolehan uang sebanyak-banyaknya dikombinasikan dengan menghindari secara ketat menikmatinya sama sekli secara sepontan….
Demikian Weber menjelaskan semangat kapitalisme dengan cara bekerja mencari uang dan keuntungan yang sebanyak-banyaknya, tetapi keuntungan tersebut tidak digunakan secara langsung untuk konsumsi atau untuk kenikmatan pribadi semata. Dalam hal ini Max Weber mengaitkan perkembangan kapitalisme dengan semangat kerja Protestan menggerakkan orang untuk kerja keras, tekun, efisien, dan berprestasi karena perolehan kesuksesan duniawi diartikan sebagai tanda keselamatan dari tuhan.
Menurut Weber bentuk lain dari kapitalisme semuanya didapatkan dalam masyarakat-masyarakat yang ditandai secara khas oleh tradisionalisme ekonomi. Majikan-majikan kapitalisme modern yang memperkenalkan metode-metode produksi kontemporer kedalam komunikasi-komunikasi yang belum pernah mengenal metode-metode sebelumnya
….Pekerja tradisional tidak berpikir dalam konteks untuk berusaha meningkatkan upah hariannya setinggi mungkin, dia lebih memikirkan berapa banyak pekerjaan yang harus ia lakukan agar gisa memperoleh penghasilan yang bisa menutupi kebutuhan mereka.
Dalam hal ini kapitalisme dipandang sebagai suatu ide yang mengenalkan suatu metode baru yang sesuai dengan keadaan masyarakat pada saat itu, majikan atau kaum borjuis digambarkan bukan sebagai seorang antagonis seperti yang di katakana oleh Karl Marx melainkan seorang yang samasekali bertolak belakang dengan ketamakan untuk memperoleh kekayaan, dan saling berbagi dengan kaum pekerja dalam mencari penghasilan dengan bekerja di perusahaan-perusahaan kaum borjuis.
Sedangakan Kapitalis menurut Karl Marx[2] memiliki ciri khas yaitu adanya produksi komoditi, alat produksi dimiliki oleh pribadi, produksi untuk memaksimalkan keuntungan, dan kehendak untuk menumpuk kekayaan.
Kapitalis dijelaskan oleh Marx adalah para borjuis yang mengekploitasi atas pekerja. Karena dalam kapitalisme, hubungan antara para pengusaha atau yang menciptakan lapangan kerja dengan kaum pekerja atau buruh terhalang, disebabkan pengusaha yang menciptakan buruh itu terikat pula dengan kaum pemilik modal yang memiliki buruh/pekerja itu sendiri. Dengan kata lain hasil karya dari pekerja/buruh itu yang seharusnya menjadi milik pekerja itu sendiri, sekarang tidak lagi dimiliki oleh para pekerja melainkan dimiliki oleh kaum pemilik modal. Dengan demikian berarti para pengusaha digambarkan sebagai pemilik kaum pekerja, sehingga apa yang dihasilkan oleh pekerja adalah milik pemilik modal yaitu Pengusaha/kaum borjuis. Dengan dianggapnya para pekerja adalah milik pemilik modal maka pemilik modal akan memanfaatkan dengan sebaik mungkin para pekerja untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar besarnya meskipun pekerja tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang dihasilkan oleh pemilik modal
Dengan adanya pemisahan kelas antara pemilik modal dan para pekerja maka terciptalah kesenjangan atau ketidak adilan, dimana kaum pekerja mendapatkan imbalan tidak layak atau tidak sesuai dengan apa yang dihasilkan, hal ini akan menambah penderitaan kaum buruh karena tidak mampu membeli kebutuhan karena keterbatasan upah. Sebaliknya kaum pemilik modal mendapatkan keuntungan yang besar. Keuntungan tersebut tidak di gunakan untuk konsumsi, melainkan untuk mengembangkan modal yang sudah mereka miliki. Pemilik modal memperluas pemasaran hasil produksi, sehingga terjadi persaingan antar pengusaha dan berakibat pada kaum buruh dimana para pekerja dipaksa untuk menghasilkan barang sebanyak dan sebaik mungkin.
Dari pendapat kedua tokoh tersebut maka dapat dilihat adanya persamaan, perbedaan, dan keunggulan serta kelemahan dari masing-masing pendapat tokoh tersebut di atas.
Persamaan
Persamaan dari pendapat kedua tokoh tersebut adalah mereka adalah ciri kapitalisme, menurut Max Weber ciri khas dari kapitalisme adalah suatu kombinasi dari ketaatan kepada usaha dan memperoleh kekayaan serta keuntungan yang tidak digunakan untuk konsumsi melainkan dikumpulkan untuk meneruskan kegiatan ekonomi. Hal tersebut juga dijelaskan dalam cirri khas kapitalisme menurut Karl Mark yaitu produksi untuk memaksimalkan keuntungan dan kehendak untuk menumpuk kekayaan atau akumulasi capital.
Perbedaan
Perbedaan pandangan menurut kedua tokoh diatas adalah Weber memandang kapitalisme yang merupakan bagian ajaran dari Protestanisme mengajarkan “Bekerjalah sekuat tenaga, tapi nikmati hasilnya sesedikit mungkin.” Inti dari ajaran tersebut itu berjalan secara terbalik: maksimalitas kapitalisme hanya mungkin dinikmati apabila diikuti dengan penekanan atas penikmatannya. Menurutnya kerja atau penderitaan didahulukan sebagai prasyarat bagi kenikmatan,
Sedngkan menurut Marx, kombinasi kerja dan kenikmatan ini dipisahkan dalam bentuk antagonisme kelas. Kerja digambarkan dan diperuntukkan kepada kelas buruh yang bekerja tanpa memperolh kenikmatan dalam hidupnya, sementara kenikmatan (yang merupakan hasil jerih payah dari kerja buruh) dinikmati secara sepihak oleh kelas kapitalis. Akibatnya, logika yang berlaku di sini adalah “buruh bekerja sekuat-kuatnya, pemilik modal menikmati sepuas-puasnya“.
Keunggulan
Pendapat Max Weber mengenai kaitannya kapitalis dan ajaran protestan yang telah dijelaskan di atas adalah merupakan hal yang positif karena sesuai dengan sifat dasar manusia yang rasional dalam menjalankan kehidupannya.
Pendapat Karl Marx mengenai kapitalis yang intinya adalah penindasan kaum pemilik modal terhadap kaum buruh memberikan solusi terhadap terciptanya keadilan bagi kedua golongan tersebut serta terjadinya kesepakatan-kesepakatan yang akhirnya akan saling menguntungkan (dialektika).
Kelemahan
Pandangan Max Weber mengenai kapitalisme intinya brekerja dengan sekuat tenaga dan menikmati hasil dari keuntungan tersebut agar dinikmati hasilnya sedikit mungkin menyebabkan penekanan atas kenikmatan yang akan memberikan efek penumpukan kekayaan oleh kaum borjuis atau akumulasi capital, hal tersebut memberikan angin segar terhadap lahirnya kapitalis-kapitalis di masa sekarang.
Sekangkan Karl Marx hanya memandang kapitalisme dari sudut pandang kaum borjuis pemilik modal perusahaan yang menindas kaum buruh, padahal kapitalisme bukan hanya sekedar berada dalam pemilik modal perusahaan. Dan pada perkembangannya kapitalisme juga lebih menghargai kaum buruh dengan mengadakan kesepakatan antara pemilik modal dan kaum buruh.

Keterangan

[1] Lihat Max Weber “Aliran Protestan Dan Kapitalisme” halaman 155-156 dalam Anthony Giddens. 1985. “Kapitalisme dan Teori Sosial Modern”. Universitas Indonesia : Jakarta.
[2] Max Weber menjelaskan satu persatu ciri khusus ekonomi secara lebih terperinci dalam Ernes Mandel. 2006. “Tesis Tesis Pokok Marxisme”. Resist Book : Yogyakarta.



Daftar Pustaka

Giddens, Anthony. 1985. “Kapitalisme dan Teori Sosial Modern”. Universitas Indonesia : Jakarta
Magnis, Frasns dan Suseno. 1999. “Pemikiran Karl Marx”. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Mandel, Ernest. 2006. ”Tesis-tesis Pokok Marxisme”. Resist Book : Yogyakarta
Suhelmi, Ahmad. 2007. “Pemikiran Politik Barat”. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Wrong, Dennis. 2003. “Max Weber Suatu Khasanah”. Ikon Teralitera : Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar